bergabunglah bersama kami di adbrite
<a href="http://www.adbrite.com/mb/landing_both.php?spid=64719&afb=120x240-3">
<img src="http://files.adbrite.com/mb/images/120x240-3.gif" border="0"></a>
Sahabat, pacar dan istri
Di suatu hari aku bertemu dengannya, lewat seorang saudara aku mencari tahu siapa dia, ternyata ia bernama Adira, kendati cerewet tapi aku sangat menyenanginya, aku berusaha membuat janji ketemu dengannya.
Ketika kami bertemu dan jalan bersama ada rasa yang tak bisa kami ucapkan, aku pun jatuh hati padanya. Hari demi hari kami lewati bersama, membuat kebahagiaan dengannya.
Namun aku tak menyangka ketika aku menyerahkan seluruh hati dan kepercayaanku padanya ternyata ia selalu membuat janji dengan orang lain. Betapa aku kecewa, tetapi ketika aku tanyakan padanya jawaban yang kuterima “Dia hanya teman biasa”, katanya.
Karena kesungguhan dan rasa sayangku padanya akupun berkata “Aku percaya padamu”, namun cerita miring selalu kudengar dari orang lain mengenai prilakunya dan yang kusayangkan kenapa saudara yang mengenalkan aku padanya yang notabene tahu akan hal itu tidak memberitahukan padaku.
Mungkin aku manusia terbodoh yang percaya akan kesetiaan cinta, aku tidak perduli dengan apa yang kudengar karena aku berpikir aku tidak menyaksikan dan tidak pernah melihat ia menduakan aku.
Hari semakin hari berlalu seiring berputarnya bumi mengelilingi matahari, segala yang aku lakukan hanya untuknya. Lambat laun berita yang kudengar semakin menghilang dari hadapanku. Akupun mengenalkan ia pada keluargaku, karena aku bilang sama keluarga “Aku mencari istri bukan pacar, karena umurku semakin hari semakin bertambah”, keluargaku pun mendukung maksudku itu. Aku datang ke rumahnya tatkala lebaran (karena kami berdua muslim), untuk memperlihatkan kesungguhanku pada keluarganya.
Namun setelah semua kulakukan sepenuh hati, tiba-tiba ia menghilang dan aku seakan kehilangan jejak tentangnya, kemana aku harus mencarinya, aku bingung, stres, sampai aku seakan kehilangan permata yang sangat kubanggakan, kusayangi dan yang selama ini kurasa telah aku genggam dengan erat.
Hari berganti kucari dan terus kucari dia, kutanyakan kepada seluruh orang yang kuanggap dapat memberikan aku setitik penampakan buatku, namun ketika kudapat berita ia telah hidup bahagia dengan orang yang dianggap sebagai temannya, akupun bertanya-tanya “Apa aku bodoh, apa dia begitu, apa aku kurang memberikan kasih sayang padanya, apakah karena fisikku yang kurang baik”, dan masih banyak pertanyaan yang melintas di kepalaku saat itu, aku tak bisa tidur, aku terus memikirkannya betapa beruntung orang tersebut, atau hanya materi yang dibutuhkannya dariku, atau memang begitu wanita sekarang.
Ketika pertanyaan terus menerus berputar di otakku, akupun berhasil mendapatkan hubungan kembali dengannya, ketika kudengar suaranya alangkah bahagianya aku, walau ia bukan milikku lagi, kukatakan padanya “Walau bagaimana kondisimu aku tetap cinta dan sayang padamu”, apa yang dijawabnya “Kak maafkan kehilafanku, tapi hatiku tetap milikmu kak”, akupun menjawab “Janganlah berkata demikian kalau kenyataan tidak terbukti”, kembali ia menjawab “Apa perlu aku buktikan bahwa aku milikmu kak”, kujawab kembali “Hanya yang di atas yang tahu apa isi hatimu, aku percaya kamu dengan seluruh jiwa ragaku, karena kepercayaanku ikut padamu sampai saat ini”.
Ia pun menangis, ia menyesali semua yang diperbuatnya, tapi aku tahu rasa sayangnya pada suaminya melebihi rasa sayangnya padaku, betapa bodohnya aku, tapi apa salah bila aku mencintai dan menyayanginya, antara otak dan hatikupun kembali bergejolak.
Keraguanku padanya juga semakin tumbuh seiring rasa sayang yang kuberikan padanya. Apakah mungkin seorang istri yang masih bersama suaminya mau berjalan denganku yang tidak mempunyai ikatan apapun juga, dibilang suami dia punya suami, dibilang pacar jiwanya bersama orang lain, dibilang keluarga tidak ada garis keturunan selain dari Adam dan Hawa.
Keberanian dan kepercayaan yang kuberikan padanya tulus dari kalbuku yang terdalam. Hampir tiap saat dimana suaminya tidak ada ia menghubungiku dengan berbagai alasan, namun yang kurasakan ia butuh aku dan uangku. Kucoba memahami hal itu namun ketika aku tidak memenuhi keinginannya ia tidak menggubrisku.
Akupun berusaha menjaga jarak dan menghindari untuk menjanjikan buatnya sesuatu, namun tetap saja aku tak bisa melupakannya, aku terlalu amat sangat menyayanginya, kuserahkan hatiku sepenuhnya buatnya, dengan ketulusan jiwaku, karena aku takut kehilangan ia pikirku.
Aku pun menjalani hubungan cinta segitga antara aku, dia dan suaminya, hampir tiap saat aku menantikan hubungan telepon darinya, karena bila aku yang menghubungi tentu saja ia sedang bersama dengan orang lain. Aku menerima keputusan itu untuk menjalani hidup sebagai orang kedua, aku ikhlas dengan ketulusan cintaku ini.
Hatiku tetap padanya dan hampir tiap saat dimana ia menghubungiku aku hadir buatnya. Dan di kala pertemuan kami terjadi aku bangga sekali bisa berjalan dengannya sebebas kami lepas dari sangkar yang mengurung kami. Kami melewatinya dengan kemesraan bagai suami yang ditinggal lama suaminya, itu yang kurasakan, namun aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya.
Setelah kami melepas rindu yang kurasa adalah perubahan pada dirinya, apakah karena ia memikirkan anaknya atau suaminya, aku bertanya-tanya dalam diri “Kenapa terjadi perubahan pada dirinya yang begitu drastis?”, akupun bertanya padanya, jawabnya “Aku memikirkan anakku”, “Oh begitu!” jawabku, namun ada keraguan di dalam relung hatiku terhadap perubahan itu, sebab aku merasa sebagai orang kedua yang hanya bertemu dengannya sekali dalam setahun mungkin aku membutuhkan perhatian di kala begini.
Tetapi aku berusaha menyingkirkan perasaan itu, walau sekali-kali aku bertanya padanya dan tetap jawaban sama yang kudapat. Kukatakan padanya “Anakmu adalah Anakku juga kan”, maka kubelikan pakaian buat anaknya agar ia merasa tenang, tanpa mengurangi rasa khawatirnya kukatakan padanya untuk tidak terlalu sedih.
Setelah kejadian itu, dia kembali menelpon dan mengatakan “Maaf atas sikapku tadi”, kubalas “Tak apa, aku mengerti dengan kondisimu yang mempunyai anak, yang butuh kasih sayang darimu”. Ia pun tenang kembali kukatakan padanya kesetiaanku hanya untukmu.







Komentar terakhir
@*dtcomment*@@*titolopost*@
@*nome*@